Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label patah hati

Isi Pada Jiwa

Kemarin, Hendak ku kembalikan... Kepingan-kepingan hati pada bumi, reruntuhan jiwa pada diri... Dahulu, Pernah hanyut lewat hulu, Melewati sungai menuju samudera Kemudian timbul meski luka mendera...

Maaf?

Suatu kali ibumu datang Manis kata, membujuk Usaha agar aku pulang Kembali dalam rujuk Suatu kali ibumu bicara Manis kata, merayu Usaha agar kupercaya Kembali dalam halu Suatu kali pula ibumu hadir! Manis kata, menghina Usaha agar berlutut pada takdir Kembali dalam fana Suatu kali ibumu suruhku minta maaf! Manis kata, merendahkan! Usaha agar ku tegang syaraf! Kembali dalam kenangan! Maaf? Kau kira cuma aku yang salah? Kau pikir cuma aku yang kalah? Kau rasa cuma kau yang sakit? Maaf? Bilang pada ibumu, kau lakukan apa padaku? Bilang pada ibumu, kau atur apa pada hidupku? Bilang pada ibumu! Kau katakan apa padaku? Suatu kali ibuku diam. Air mata kutumpah. Menjelaskan betapa sakit kupendam. Kembali pada Tuhan ku serah. Suatu kali ibuku sedih. Aku yang ternyata tersiksa. Menjelaskan kenyataan dan resah. Kembali hati kulipat paksa. Maaf? Haha! Aku sudah pernah mendengar Tanpa diberi kesempatan bicara. Maaf? Haha! Aku sudah pernah menurut Tanpa diberi kesempatan menjadi diri sendiri.

Tekuk, Lipat, dan Berlapis: Kecewa

Kutekuk, kulipat..berlapis Perasaan kecewa, putus asa Bersenandung dalam hujan agar saru tampaknya Kubelenggu kepedihan...dalam gelap Perasaan sedih, dan lenyap harap Berenang dalam lubang agar tak tampak rupanya Ya! Begitulah... Ketika terlalu memberi ruang pada manusia Tidak! Bukan tak lagi... Ketika mencoba kembali namun sirna adanya Bu, Tahukah? Mengertikah? Pak, Terdengarkah? Pedulikah? Berkali aku hujamkan penjelasan Perasaan seekor piyik dilumbung cinta Namun, tak daya kutampung gelisah Hari demi hari, Tahun ke tahun, Menjadi tahi dan hinaan Bukan aku tak mau, Bukan pula tak sudi, Tapi kotoran berlapis dicitraku Ya, baiklah... Aku mendengar, Aku berdiam Semua punya waktu, Kutekuk kembali kecewa Kulipat lagi semua, ku ikat dan kusimpan di garasi jiwa. Cukuplah.. Berhenti. Aku lelah.

Virus!

Begitu... Membuatku mati perlahan, Mengerang pedih dalam kesendirian Begini? Tidak bukan mauku seperti ini, Tidak dengan kesepian dan derita Virus! Ya! Kau adalah virus Yang merasuk dan menggegorogiku Virus! Habisi saja sekalian! Hilangkan jiwaku jangan sisakan Sudah cukup! Berhenti membunuh perlahan Bergeraklah cepat dan matikan aku Sekilas saja Hentikan pandanganmu tepat di mataku Hinakan kondisiku tak merubah takdir Tak mampu lagi aku Senandung senja pun memudar Sajak durjana pula tak lagi menghibur Lepaskanlah, Jangan janjikan aku bahagia Jangan lagi aku dijadikan tumbal Lewatkanlah... Acuh hidupku kini Aku biarkan virusmu menerjang ... Kau! ... Virus !

Mak Rindu, Nak.

3 hari sudah... Aku menanti hingga matahari mulai meninggi Namun, tak kunjung muncul kedatangannmu 3 hari pula... Aku rela memejam berbantal lengan Namun, tak ada tandamu Nak, Amak rindu... Tingkah polah dan suaramu yang lucu Nak, Pulanglah... Bukankah mak sudah janji memberimu wet food minggu ini Pulanglah, Biarkan amak peluk erat Biarkan amak cium kepalamu Pulanglah, Amak ingin mengelus kepalamu saat kantuk datang Amak ingin menggendong hingga kau tenang Amak rindu, Nak Aluwi ku..

Kopi, Hujan, dan Kau

Seakan dunia berhenti bicara, Ketika kuseruput perlahan... Rinduku semakin menjadi Tiap-tiap tetesnya menjadi kilas balik, Saat kutatap dalam... Pedihnya terasa makin dalam Kopi, hujan dan Kau Meluncur cepat menuju ingatan... Kala kita pernah bersenandung ringan berdua saja Puisiku, Berhenti di ujung pena... Manakala emosi meremukkan harapan lama Lagi, Terus saja merasuk imaji... Merobohkan keinginan yang terbangun bertahun Ya! Kopi, hujan dan Kau Melenyapkan nada-nada indah dalam angan

Jikalau, Ya.

Mengusahakan segalanya, untukmu... Pernah! Tentu saja. Apa yang tak kuberikan? Bahkan merelakan nyawaku pun aku pernah. Apa? Bodoh? Oh tentu saja sayang, belum pernah ada orang jatuh cinta yang mendadak pandai. Belum pernah ada orang jatuh cinta yang perhitungan. Jikalau, ya! Lantas ketika aku memilih berhenti, dan pergi. Mengapa tak pernah ada ucapan baik yang kudengar? Jikalau, ya! Lantas ketika kau memaki, dan aku diam. Mengapa justru cacian yang kau beri, sayang? Mengusahakan semuanya, untukmu. Adalah bagian dari jatuh cinta terdalamku Sekaligus, bagian hidup terbodoh yang aku lakukan. Sekarang? Pergilah... Aku relakanmu untuk mendapatkan kebodohanmu selanjutnya.