Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Amarah

Maaf?

Suatu kali ibumu datang Manis kata, membujuk Usaha agar aku pulang Kembali dalam rujuk Suatu kali ibumu bicara Manis kata, merayu Usaha agar kupercaya Kembali dalam halu Suatu kali pula ibumu hadir! Manis kata, menghina Usaha agar berlutut pada takdir Kembali dalam fana Suatu kali ibumu suruhku minta maaf! Manis kata, merendahkan! Usaha agar ku tegang syaraf! Kembali dalam kenangan! Maaf? Kau kira cuma aku yang salah? Kau pikir cuma aku yang kalah? Kau rasa cuma kau yang sakit? Maaf? Bilang pada ibumu, kau lakukan apa padaku? Bilang pada ibumu, kau atur apa pada hidupku? Bilang pada ibumu! Kau katakan apa padaku? Suatu kali ibuku diam. Air mata kutumpah. Menjelaskan betapa sakit kupendam. Kembali pada Tuhan ku serah. Suatu kali ibuku sedih. Aku yang ternyata tersiksa. Menjelaskan kenyataan dan resah. Kembali hati kulipat paksa. Maaf? Haha! Aku sudah pernah mendengar Tanpa diberi kesempatan bicara. Maaf? Haha! Aku sudah pernah menurut Tanpa diberi kesempatan menjadi diri sendiri.

Dingin: Sepi membunuh!

Berkali, kucoba balik lembar lama Berharap masih ada harap yang kutinggal Bersenandung pura pura tenang, tak gundah Bertatap cermin dengan tebal riasan kebohongan Tapi, apa daya... Dingin mencoba mengambil kemudi Terdiamku ketika sadar, dingin mulai mencipta puisi sepi di kepala, di hati Terpaku saat kusadar, sepi membunuh! Pelan...Tapi pasti! Tetapku usaha bernafas dalam, bermain dengan irama kematiannya Ya! Sudah begitu ditulis.. nasib menjadi mayat Yang kubiasakan sedikit demi sedikit, berpacu dalam arena pembunuhan ini Yang digores dalam rasa, dan dilumuri kepedihan Yang digoreng dengan api kebencian kecil dan matang perlahan Matiku pasti, Membusukku pun jelas adanya Memang begini sudah kuterima saja Mungkin, dingin terlalu iri pada kehangatan jiwaku Baca tulisan lainnya

Terserah!

Bicara tanpa ilmu Berlenggok seakan biasa saja Ya! Terserah! Mengaku anak negri Menderita tak ada yang peduli Ya! Terserah! Sekarat dan berkarat Selimuti diri dengan khidmat Ya! Terserah! Kalau kau pikir kebal? Kalau kau kira selamat? Ya! Terserah! Tapi jangan jadikan kami tumbal Tetap memilih keluar acuh pada ajal Ya! Terserah! Corona bukan mainan Corona merusak dan mematikan Ya! Terserah! Aku lelah dengan rumah Aku ingin bekerja (lagi) Ya! Apa daya.. Aku hanya rakyat biasa!

Tekuk, Lipat, dan Berlapis: Kecewa

Kutekuk, kulipat..berlapis Perasaan kecewa, putus asa Bersenandung dalam hujan agar saru tampaknya Kubelenggu kepedihan...dalam gelap Perasaan sedih, dan lenyap harap Berenang dalam lubang agar tak tampak rupanya Ya! Begitulah... Ketika terlalu memberi ruang pada manusia Tidak! Bukan tak lagi... Ketika mencoba kembali namun sirna adanya Bu, Tahukah? Mengertikah? Pak, Terdengarkah? Pedulikah? Berkali aku hujamkan penjelasan Perasaan seekor piyik dilumbung cinta Namun, tak daya kutampung gelisah Hari demi hari, Tahun ke tahun, Menjadi tahi dan hinaan Bukan aku tak mau, Bukan pula tak sudi, Tapi kotoran berlapis dicitraku Ya, baiklah... Aku mendengar, Aku berdiam Semua punya waktu, Kutekuk kembali kecewa Kulipat lagi semua, ku ikat dan kusimpan di garasi jiwa. Cukuplah.. Berhenti. Aku lelah.