Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi Pendek

16 Tahun: Tsunami Aceh

Sudah Ku lewati, 16 Tahun masa itu... Merasa diberkati, Kala itu... Tsunami Aceh, Bukan hanya pilu saja kanda... Ada sobekan luka mendalam, masih basah Tapi hari ini kami berdoa. "Semoga yang berpulang berbahagia" Karena aku tahu, mereka syuhada "Semoga yang ditinggal berbahagia" Karena semoga mereka menemukan keluarga Panjatkan doa selalu Tidak hanya saat tanggal 26 Desember ini Panjatkan doa selalu Setiap saat ingat tanggal 26 Desember ini. Berjuanglah, Dinda... Ada masa depan di ujung gerbang Ada asa di depan mata Berjuanglah, sampai nanti Kau pulang.

Puisi: Hilang

Bukan sekali, Ada lebah datang merayu kembang Tapi tak lama hilang.. Karena warnanya tak sesuai Pernah jua, Ada lebah mampir Tak lama ia melipir.. Karna kembang tak lagi muda Kembang pernah bercerita, Ia hanya ingin mati bahagia Buka soal kaya, Setidaknya bisa memberi pada sesama Lama tak ada surat, Aku lihat kembang mulai layu, Tak lagi peduli pada yang merayu Kemudian kembang hilang Hilang merunduk pada tanah yang selamanya peduli, Merunduk pada tanah yang selalu setia Hingga akhirnya kembang hilang Tanah mencari kembang lain yang segera tua

Puisi: Tak Biasa

Mungkin, Bisa jadi, Oh! Boleh jadi begitu. Tapi tidak! Ini tak biasa. Bukankah selama ini bisa?! Adakah merasa gagal saat mulai? Atau merasa tak berguna? Atau mungkin hanya pikiranku saja? Tapi tidak! Ini sungguh tak biasa. Selama ini jauh lebih berat. Harusnya aku bersyukur, bukan? Harusnya jauh lebih kuat, kan? Harusnya tak berair mata, iya kan? Tapi tidak! Ini benar-benar tak biasa. Bukankah selama ini mampu?! Bangunlah. Berdiri! Atau paling tidak merangkak. Jangan berhenti. Jangan sia-siakan jantungmu memacu. Jangan hinakan jiwamu berjuang. Tapi. Tidak ada tapi kali ini. Tetap bergerak, walaupun siput jauh lebih kencang.

Berdansa : Puisi Dinda

Sepatuku baru, Memulai dansa tanpa ragu Berdendang tanpa malu Hilangkan perasaan pilu Gerombolan padi merunduk Sombong yang makin takluk Inilah yang kusebut makhluk Berkerumun dalam hiruk pikuk Terka Aku, Bang! Siapa Dinda, Sayang? Kukepak sayap dan terbang! Melintas gedung menjulang!! Syukur tak putus ada Tuhan Selalu memberi kesempatan Pernah terkurung dalam hutan Lalu basah kuyup karna hujan.. Sepatu lama kusobek Karna mulutnya seperti bebek Seakan bicara jiwaku becek Remuk karena banjir tanpa kocek Aku Dinda! Takkan kau kalahkan ku, Baginda! Mati pun takkan punya keranda Sekali lagi, ini sepatuku. Milik Dinda.

Puisi: Pergolakan Hati

Di balik daun pintu, Ada benci mengetuk, menyapa hangat Seakan kebaikan cuma basa-basi Tapi dari jendela, Ada darah yang sama memeluk Mengingatkan, ikatan yang tak bisa hilang Belajarlah lagi, Kejar mimpimu menjadi lebih berarti Menjadi jalan baik untuk banyak orang Tapi dari gorong-gorong, Ada bau busuk mencoba masuk Mencoba merebut akal sehat Bersabarlah lagi, Memang niat baik selalu dicoba lebih berat Kau masih kuat, sayang... Jangan menyerah Kau bisa, kau pasti mampu Berdiri di atas, untuk merangkul Berdiri di atas, untuk memberi Jangan berhenti di sini, Ini baru permulaan, Hidupmu baru saja dimulai. Belajarlah lebih keras, agar manfaatmu mencapai tujuannya.

Puisi Pendek: Masa sulit

Panas, terik, menyengat kulit Hujan, deras basah, mengerutkan kulit Aku tau, ini masa sulit Aku paham, kadang untuk makan saja berusaha pelit Jangan menyerah, sayang Jangan berhenti. Kuatkan hati, kuatkan kaki Keraskan doa, keraskan usaha. Ada masanya, Di masa depan, kau tersenyum Ada waktunya, Di masa mendatang, kau bersukacita Sekali lagi, Jangan menyerah, sayang Jangan berhenti. Tuhan tahu pasti perjuanganmu.

Isi Pada Jiwa

Kemarin, Hendak ku kembalikan... Kepingan-kepingan hati pada bumi, reruntuhan jiwa pada diri... Dahulu, Pernah hanyut lewat hulu, Melewati sungai menuju samudera Kemudian timbul meski luka mendera...

Jatuh Cinta: Purnama

Angin berbisik lembut, Membisik bentuk wajah yang tersirat Membuat rindu menggebu dan terasa dekat Saat awan beranjak, Putihnya serta harum semerbak Segera membuatku menebak-nebak Memang jatuh cinta, tai rasa coklat Semua yang terlihat, kau telan bulat-bulat Padahal ketika aslinya muncul, segera napasmu tercekat Itulah adanya cinta nostajik Ada getar dihati menelisik Seakan bumi bulat, membuat jantungku enerjik Dalam perasaan ku-remat Jemari yang kugenggam kuat Ketika menatapmu dan aku terpikat Sungguh cinta, bagai bunga punya kelopak Anggun jelita dan rindu memuncak Bergeserku dari kamar ke sahara bersemak Linglung hatiku tersesat Seakan dunia tak lagi dapat dilihat Karena, hanya kau yang kasat Purnamaku, aku rindu