Langsung ke konten utama

Postingan

Dingin: Sepi membunuh!

Berkali, kucoba balik lembar lama Berharap masih ada harap yang kutinggal Bersenandung pura pura tenang, tak gundah Bertatap cermin dengan tebal riasan kebohongan Tapi, apa daya... Dingin mencoba mengambil kemudi Terdiamku ketika sadar, dingin mulai mencipta puisi sepi di kepala, di hati Terpaku saat kusadar, sepi membunuh! Pelan...Tapi pasti! Tetapku usaha bernafas dalam, bermain dengan irama kematiannya Ya! Sudah begitu ditulis.. nasib menjadi mayat Yang kubiasakan sedikit demi sedikit, berpacu dalam arena pembunuhan ini Yang digores dalam rasa, dan dilumuri kepedihan Yang digoreng dengan api kebencian kecil dan matang perlahan Matiku pasti, Membusukku pun jelas adanya Memang begini sudah kuterima saja Mungkin, dingin terlalu iri pada kehangatan jiwaku Baca tulisan lainnya

Pemkab Sleman Akan Lakukan Rapid Test ke Padagang Pasar Juni Mendatang

ilustrasi corona virus Sumber:  TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN Pemkab Sleman akan melaksanakan rapid test di pasar tradisional pada bulan Juni mendatang. Kegiatan tersebut akan menyasar 500 pedagang di 10 pasar tradisional. Juru bicara Gugus Tugas Covid-19 Sleman, Shavitri Nurmala Dewi menjelaskan pasar yang dimaksud tidak hanya pasar yang dikelola oleh Pemkab tetapi juga oleh Pemdes. Mulai yang berada di Kecamatan Gamping, Mlati, Depok, Ngaglik, Godean dan Prambanan. Penentuan pasar berdasarkan tingginya aktivitas di sana yang menyebabkan kerumunan. Selain itu, kriteria lain adalah lokasi pasar berada di wilayah atau kecamatan yang memiliki pasien positif Covid-19. "Rapid test bagi  pedagang pasar tradisional  ini kami gelar agar tidak muncul klaster baru dari pasar. Meskipun selama ini kami sudah menghimbau agar pedagang pasar mengikuti protokol kesehatan," ujar perempuan yang akrab disapa Evie ini, Kamis (28/5/2020). Lebih lanjut ia menjelaskan, tidak se...

Idul Fitri : Rantauku

Tak pulang (lagi) tahun ini... Tak berpeluk bapak ibu (lagi) tahun ini Tak berkunjung ke sanak saudara Tak makan besar Idul Fitri, rantauku... Idul Fitri, rinduku Idul Fitri, sendiriku Idul fitri, sederhanaku Ku syukuri, sehatku Ku syukuri, jauhku Ku syukuri, keberadaanku Ku syukuri, kondisiku Mungkin banyak yang kekurangan Materi Mata berkaca ketika bersalaman, namun Masih banyak yang kehilangan keluarganya Jadi, semangatlah Jadi, sabarlah Jadi, kuatlah Jadi, tabahlah Idul fitri-ku... Rantauku... Baca juga : Kumpulan puisi kompasiana

UGM Pimpin Pembuatan Inovasi Rapid Test Covid-19 RI-GHA

Editor:   Wahyu Adityo Prodjo KOMPAS.com  - Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK)  UGM , Prof. Sofia Mubarika Haryana memimpin pembuatan inovasi uji diagnosis cepat (rapid diagnostic test/ RDT) untuk  Covid-19  yang berbasis antibodi untuk mendeteksi IgM dan IgG yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan Covid-19. “Awalnya, saat muncul pandemi Covid-19 kami memang berpikir apa yang dapat kami lakukan untuk ikut membantu penanganan Covid-19. Kemudian Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menginisiasi untuk melakukan inovasi riset mengenai Covid-19,” jelas Prof. Rika seperti dikutip dari laman UGM. BPPT mengundang dan mengajak beberapa peneliti Indonesia untuk bergabung melakukan riset dalam usaha penanganan Covid-19. Salah satu peneliti yang diundang adalah Prof. Rika dari FK-KMK UGM. “Kebetulan penelitian saya sebelumnya adalah mengenai virus yang terkait dengan kanker, yaitu Epstein-Barr Virus (EBV). ...

Puisi: "Anu"

Cinta itu bagai kentut, Setelah terungkap akan lega Sayang padamu bagai rembulan, meskipun bopeng... Aku menunggu cahayamu Kasih padamu itu bagai angin kencang, setelah rubuh, aku akan bangun mengejarmu Rasa penuh cita, Rasa terluka, dan duka yang terbuka Apapun itu aku tetap mengejarmu Karena "ANU"ku padamu Posted:2011-12-24 15:14:04 UTC+07:00 source: raseukinotes.blogspot.com

Terserah!

Bicara tanpa ilmu Berlenggok seakan biasa saja Ya! Terserah! Mengaku anak negri Menderita tak ada yang peduli Ya! Terserah! Sekarat dan berkarat Selimuti diri dengan khidmat Ya! Terserah! Kalau kau pikir kebal? Kalau kau kira selamat? Ya! Terserah! Tapi jangan jadikan kami tumbal Tetap memilih keluar acuh pada ajal Ya! Terserah! Corona bukan mainan Corona merusak dan mematikan Ya! Terserah! Aku lelah dengan rumah Aku ingin bekerja (lagi) Ya! Apa daya.. Aku hanya rakyat biasa!

Tekuk, Lipat, dan Berlapis: Kecewa

Kutekuk, kulipat..berlapis Perasaan kecewa, putus asa Bersenandung dalam hujan agar saru tampaknya Kubelenggu kepedihan...dalam gelap Perasaan sedih, dan lenyap harap Berenang dalam lubang agar tak tampak rupanya Ya! Begitulah... Ketika terlalu memberi ruang pada manusia Tidak! Bukan tak lagi... Ketika mencoba kembali namun sirna adanya Bu, Tahukah? Mengertikah? Pak, Terdengarkah? Pedulikah? Berkali aku hujamkan penjelasan Perasaan seekor piyik dilumbung cinta Namun, tak daya kutampung gelisah Hari demi hari, Tahun ke tahun, Menjadi tahi dan hinaan Bukan aku tak mau, Bukan pula tak sudi, Tapi kotoran berlapis dicitraku Ya, baiklah... Aku mendengar, Aku berdiam Semua punya waktu, Kutekuk kembali kecewa Kulipat lagi semua, ku ikat dan kusimpan di garasi jiwa. Cukuplah.. Berhenti. Aku lelah.