Langsung ke konten utama

Maaf?

Suatu kali ibumu datang
Manis kata, membujuk
Usaha agar aku pulang
Kembali dalam rujuk

Suatu kali ibumu bicara
Manis kata, merayu
Usaha agar kupercaya
Kembali dalam halu

Suatu kali pula ibumu hadir!
Manis kata, menghina
Usaha agar berlutut pada takdir
Kembali dalam fana

Suatu kali ibumu suruhku minta maaf!
Manis kata, merendahkan!
Usaha agar ku tegang syaraf!
Kembali dalam kenangan!

Maaf?
Kau kira cuma aku yang salah?
Kau pikir cuma aku yang kalah?
Kau rasa cuma kau yang sakit?

Maaf?
Bilang pada ibumu, kau lakukan apa padaku?
Bilang pada ibumu, kau atur apa pada hidupku?
Bilang pada ibumu! Kau katakan apa padaku?

Suatu kali ibuku diam.
Air mata kutumpah.
Menjelaskan betapa sakit kupendam.
Kembali pada Tuhan ku serah.

Suatu kali ibuku sedih.
Aku yang ternyata tersiksa.
Menjelaskan kenyataan dan resah.
Kembali hati kulipat paksa.

Maaf?
Haha!
Aku sudah pernah mendengar
Tanpa diberi kesempatan bicara.

Maaf?
Haha!
Aku sudah pernah menurut
Tanpa diberi kesempatan menjadi diri sendiri.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Life: The real living matter

What you deserve? Kind of successful job? Wealthy and many expensive cars? Nah! It just a counted things It just an eye catching Life is not to enjoy your laziness Life is struggle Life is a choice No matter how hard problems come No matter scolding hits No matter how confused it feel Effort will not betray the results Effort will not forget the struggle Effort will not leave a strong heart Hail to those who work harder Hail to those who pray more often Hail to those who fight endlessly

Puisi: Hilang

Bukan sekali, Ada lebah datang merayu kembang Tapi tak lama hilang.. Karena warnanya tak sesuai Pernah jua, Ada lebah mampir Tak lama ia melipir.. Karna kembang tak lagi muda Kembang pernah bercerita, Ia hanya ingin mati bahagia Buka soal kaya, Setidaknya bisa memberi pada sesama Lama tak ada surat, Aku lihat kembang mulai layu, Tak lagi peduli pada yang merayu Kemudian kembang hilang Hilang merunduk pada tanah yang selamanya peduli, Merunduk pada tanah yang selalu setia Hingga akhirnya kembang hilang Tanah mencari kembang lain yang segera tua

Puisi: Tak Biasa

Mungkin, Bisa jadi, Oh! Boleh jadi begitu. Tapi tidak! Ini tak biasa. Bukankah selama ini bisa?! Adakah merasa gagal saat mulai? Atau merasa tak berguna? Atau mungkin hanya pikiranku saja? Tapi tidak! Ini sungguh tak biasa. Selama ini jauh lebih berat. Harusnya aku bersyukur, bukan? Harusnya jauh lebih kuat, kan? Harusnya tak berair mata, iya kan? Tapi tidak! Ini benar-benar tak biasa. Bukankah selama ini mampu?! Bangunlah. Berdiri! Atau paling tidak merangkak. Jangan berhenti. Jangan sia-siakan jantungmu memacu. Jangan hinakan jiwamu berjuang. Tapi. Tidak ada tapi kali ini. Tetap bergerak, walaupun siput jauh lebih kencang.